Rabu, 30 April 2008

Puluhan Guru Ditangkap

Kebocoran UN

Puluhan Guru Ditangkap

[JAKARTA] Puluhan guru dari beberapa daerah yang diduga terlibat pembocoran ujian nasional (UN), telah ditangkap dan dijadikan tersangka. Hingga, Kamis (24/4) malam, sedikitnya empat kepala sekolah dan 26 guru ditangkap dan dijadikan tersangka. Inspektorat Jenderal Departemen Pendidikan Nasional (Itjen Depdiknas) mengakui keterlibatan oknum guru dalam melakukan aksi kecurangan UN yang dilakukan oleh sejumlah sekolah di berbagai daerah.

"Dalam catatan dan laporan kami sementara ini, di lapangan sudah empat daerah yang dinyatakan curang, baik itu bocor soal dan jawaban maupun perjokian oleh sejumlah guru. Bukan mustahil sejumlah guru lainnya yang terlibat akan dimintai keterangan," ujar Inspektur Jenderal (Irjen) Depdiknas, Muhammad Sofyan kepada SP di Jakarta, Jumat (25/4).

Keempat daerah tersebut, kata Sofyan, masing-masing Deli Serdang (Sumatera Utara), Makassar (Sulawesi Selatan), Solo (Jawa Tengah), dan Batam (Kepulauan Riau). ''Untuk Batam, dari 16 sekolah yang dilaporkan sementara, 9 SMK diduga bocor,'' ujarnya.

Ia menegaskan, kasus-kasus tersebut pasti dilaporkan kepada pihak berwajib, karena sudah menjadi komitmen Mendiknas Bambang Sudibyo, untuk menindak tegas siapa pun yang berlaku curang dalam pelaksa- naan UN.

Selain hukuman pidana, para pelaku juga akan dikenakan sanksi administratif. Pasalnya, jelas Sofyan, perbuatan-perbuatan curang tersebut sudah merupakan tindakan yang melawan hukum, karena telah membocorkan rahasia negara dan menyalahgunakan dokumen negara.

Sementara itu, Ketua Umum Badan Standardisasi Nasional Pendidikan, Prof Dr Yunan Yusuf mengungkapkan, secara kuantitatif, kasus kebocoran soal penyelenggaraan UN cenderung menurun dibandingkan tahun lalu. Namun, secara kualitatif cenderung meningkat.

''Tahun lalu terjadi kasus kebocoran soal di 9 provinsi dan melibatkan 11 oknum sekolah, yaitu guru, karyawan sekolah, serta peserta ujian, maka tahun ini kasus kebocoran hanya terjadi di 4 provinsi, yaitu di Medan, Batam, Makassar, dan Jayapura. Namun, jumlah guru dan kepala sekolah yang terlibat jauh lebih banyak,'' ujar Yunan kepada SP, Jumat pagi.

Yunan menambahkan, berdasarkan informasi terakhir yang diperolehnya, cukup banyak oknum kepala sekolah dan guru yang saat ini diamankan polisi dan telah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus pembocoran soal UN. Perinciannya, di Medan (17 guru), Batam (8 guru), Makassar (3 kepala sekolah), dan di Jayapura (1 guru dan 1 kepala sekolah).

Para tersangka pembocor UN tersebut terancam hukuman penjara paling sedikit 5 tahun jika di pengadilan terbukti bersalah karena membocorkan lembar rahasia negara dalam format UN.

Sesuai Kemampuan

Ketua Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Djemari Mardapi mengatakan, soal UN sudah sesuai dengan kemampuan peserta didik. Sebab, soal-soal itu telah dikaji dan diperbarui oleh guru mata pelajaran sebelum di-UN-kan. "Untuk soal matematika, yang mengkaji dan memperbaruinya justru dari asosiasi guru matematika. Untuk soal mata pelajaran lainnya, dosen-dosenlah yang mengkajinya," katanya di Jakarta, Kamis.

Terkait dengan itu, Sekretaris Forum Martabat Guru Indonesia (FMGI) Lampung Gino Vanollie mengemukakan, tingkat kesulitan soal yang dialami peserta didik salah satunya karena standar pelayanan pendidikan yang belum merata. [E-5/W-12]

http://www.suarapembaruan.com/News/2008/04/25/Utama/ut03.htm

Tidak ada komentar: